Skip to main content
Mengenal Kanker Sarkoma yang Diderita Alice Norin, Ini Penyebab dan Gejalanya

Mengenal Kanker Sarkoma yang Diderita Alice Norin, Ini Penyebab dan Gejalanya


Aktris sekaligus Model Alice Norin baru-baru ini membagikan kabar kurang menyenangkan tentang kondisi kesehatannya. Melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, perempuan berdarah Norwegia ini mengatakan bahwa dirinya mengidap kanker sarkoma. 

Alice mengatakan bahwa ia baru mengetahui kondisi tersebut pada Desember 2023 lalu. Hal ini bermula saat ia kerap merasakan nyeri pada bagian perut bawah sejak Agustus 2023. Usai menjalani pemeriksaan, ia juga diketahui memiliki miom berukuran 6 centimeter yang berlokasi dekat dengan pembuluh darah.

Tapi apa sebenarnya kanker sarkoma yang diderita Alice Norin? Berikut ulasan lebih lanjut tentang kanker sarkoma yang umumnya menyerang jaringan ikat, dirangkum Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (16/2/2024).

Apa itu Kanker Sarkoma


Kanker sarkoma adalah kanker yang berasal dari lapisan mesenkim tubuh manusia. Lapisan mesenkim adalah bagian penting dari pembentukan berbagai jaringan tubuh, termasuk jaringan ikat, sel lemak, otot, pembuluh darah, dan tulang. Karena itu, sarkoma dapat muncul dari berbagai bagian tubuh, mulai dari kulit, jaringan ikat, tulang, pembuluh darah, hingga organ-organ dalam tubuh.

Meskipun kanker sarkoma jarang terjadi dibandingkan dengan jenis kanker lainnya, secara umum jenis kanker ini memiliki sifat yang agresif. Hal ini membuat pengobatan dan penanganan kanker sarkoma menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli medis. Kompleksitas sarkoma juga tercermin dari adanya lebih dari 70 subtipe yang berbeda, menambah kesulitan dalam diagnosis dan pengelolaan penyakit ini.

Dalam pengelompokan yang lebih luas, sarkoma dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu tumor tulang dan tumor jaringan lunak. Setiap subtipe sarkoma memiliki karakteristik dan perilaku yang berbeda, yang memerlukan pendekatan diagnosis dan pengobatan yang khusus sesuai dengan jenisnya.

Deteksi dini dan penanganan yang tepat sangatlah penting dalam menghadapi kanker sarkoma. Meskipun tergolong kanker ganas, terapi yang tepat dapat membantu meningkatkan prognosis dan kualitas hidup pasien yang terkena dampak penyakit ini.

Jenis Kanker Sarkoma

Kanker sarkoma merupakan kelompok penyakit kompleks yang terdiri dari beberapa jenis berbeda. Setiap jenis membutuhkan pendekatan pengobatan yang khusus sesuai dengan karakteristiknya. Berikut adalah empat kelompok utama sarkoma yang memerlukan metode pengobatan yang berbeda.

1. Sarkoma Tulang

Sarkoma tulang adalah kanker yang berasal terutama dari tulang. Jenis yang paling umum adalah osteosarkoma, yang cenderung menyerang anak-anak dan orang dewasa muda. Selain itu, ada juga kondrosarkoma yang berasal dari tulang rawan dan kordoma yang berakar dari notokorda. Tiap jenis ini memiliki karakteristik dan perilaku yang berbeda, sehingga memerlukan strategi pengobatan yang disesuaikan.

2. Sarkoma Jaringan Lunak (SJL)

Sarkoma jaringan lunak mencakup lebih dari 50 subtipe yang berbeda. Beberapa subtipe yang umum meliputi liposarkoma, leiomiosarkoma, sarkoma pleiomorfik yang tidak terdiferensiasi, dan angiosarkoma. Sarkoma jaringan lunak dapat berkembang dari berbagai bagian tubuh, termasuk kepala dan leher, anggota tubuh, tungkai, panggul, dan organ-organ dalam tubuh. Keagresifan sarkoma jaringan lunak menambah tantangan dalam pengobatannya.

3. Gastrointestinal Stromal Tumours (GIST)

GIST muncul dari saluran cerna, terutama di dalam lambung, namun juga dapat menyerang usus halus dan dubur. Mutasi gen, khususnya pada gen KIT atau PDGFRA, merupakan penyebab terjadinya GIST. Tumor ini menunjukkan pertumbuhan sel yang tak terkendali akibat mutasi tersebut, yang memerlukan strategi pengobatan yang berfokus pada karakteristik genetiknya.

4. Sarkoma Ewing (EWS) & Rhabdomyosarcoma (RMS)

Sarkoma Ewing dan rhabdomyosarcoma merupakan jenis sarkoma yang sangat agresif. Mereka dapat tumbuh dari jaringan lunak atau tulang, dan muncul dari berbagai bagian tubuh, termasuk kepala dan leher, tulang belakang, ekstremitas, dan dada. Kedua jenis ini cenderung menyerang anak-anak dan orang dewasa muda, menambah kompleksitas dalam pengobatan.

Penyebab Kanker Sarkoma


Kanker sarkoma merupakan penyakit kompleks dengan penyebab yang bervariasi tergantung pada jenisnya. Meskipun faktor penyebabnya dapat berbeda-beda antara satu jenis sarkoma dengan yang lain, beberapa faktor risiko umum dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengembangkan kanker sarkoma. Berikut adalah penyebab dan faktor resiko kanker sarkoma.

1. Faktor Genetik

Faktor genetik memainkan peran penting dalam beberapa jenis kanker sarkoma. Misalnya, pada Gastrointestinal Stromal Tumours (GIST), mutasi genetik pada gen KIT atau PDGFRA diketahui menjadi penyebab terjadinya penyakit ini. 

Selain itu, sarkoma lain seperti Sarkoma Ewing dan Rhabdomyosarcoma juga dapat disebabkan oleh mutasi genetik, yang seringkali terjadi dalam bentuk translokasi kromosom. Namun, mekanisme yang memicu mutasi genetik dalam tumor tersebut masih belum sepenuhnya dipahami.

2. Faktor Risiko Umum

Beberapa faktor risiko umum telah diidentifikasi yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena kanker sarkoma, berikut diantaranya.

Riwayat sarkoma dalam keluarga, menunjukkan adanya predisposisi genetik yang dapat meningkatkan risiko keluarga terkena penyakit ini.

Kelainan genetik turun-temurun, seperti neurofibromatosis, sindrom Gardner, retinoblastoma, atau sindrom Li-Fraumeni, dapat memperbesar risiko terjadinya sarkoma.

Paparan terhadap radiasi juga diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker sarkoma.
Kerusakan sistem limfatik juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker sarkoma, meskipun mekanisme persisnya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Meskipun telah ada kemajuan dalam pemahaman tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kanker sarkoma, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara lebih mendalam mekanisme yang mendasari perkembangan penyakit ini. Pemahaman yang lebih baik tentang penyebab kanker sarkoma diharapkan dapat membantu dalam upaya pencegahan, deteksi dini, dan pengembangan terapi yang lebih efektif.

Gejala Kanker Sarkoma


Diagnosis dan pengobatan kanker sarkoma melibatkan serangkaian langkah penting untuk memastikan diagnosis yang akurat dan memberikan perawatan yang tepat. Langkah pertama dalam diagnosis adalah pengambilan sampel sel dari tumor yang disebut biopsi. Ini dilakukan untuk memeriksa jenis sel yang terlibat dalam tumor. 

Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan, MRI, atau PET scan dapat digunakan untuk melihat tumor dan memeriksa penyebaran penyakit. Pada beberapa kasus, pemindaian tulang mungkin diperlukan untuk mengevaluasi penyebaran kanker, terutama pada osteosarkoma.

Pilihan pengobatan untuk kanker sarkoma tergantung pada beberapa faktor, termasuk jenis sarkoma, stadium penyakit, dan lokasi tumor. Pengobatan kanker sarkoma seringkali melibatkan pendekatan multimodal, yaitu kombinasi dari beberapa metode seperti operasi, kemoterapi, dan radiasi. Rencana pengobatan yang tepat akan ditentukan oleh tim medis yang memperhitungkan berbagai faktor yang relevan dengan kondisi pasien. 

Pengobatan Sarkoma Tulang

Osteosarkoma biasanya diobati dengan kombinasi kemoterapi, operasi, dan kemoterapi pasca-operasi. sedangkan untuk Kondrosarkoma dan Kordoma terapi utamanya adalah operasi.

Pengobatan Sarkoma Jaringan Lunak

Untuk tumor yang terlokalisir, operasi biasanya dilakukan diikuti dengan kemungkinan radiasi sebelum atau sesudah operasi. Terapi tambahan seperti kemoterapi juga dapat diberikan, tergantung pada jenis dan stadium tumor.

Pengobatan GIST

Pada tumor yang terlokalisir, operasi seringkali dilakukan. Obat seperti imatinib dapat efektif untuk mengatasi GIST dengan mutasi KIT atau PDGFRA. Sementara pada tumor yang menyebar, terapi terarah seperti imatinib dapat diberikan untuk mengurangi ukuran tumor sebelum melakukan operasi.

Pengobatan Sarkoma Ewing dan Rhabdomyosarcoma

Kedua jenis sarkoma ini sangat sensitif terhadap kemoterapi, sehingga kemoterapi biasanya diberikan terlebih dahulu sebelum pengobatan lokal seperti operasi atau radiasi.